Industri Pertahanan Raup Untung, Menteri Rini: Alhamdulillah

Enam Badan Usaha Milik Negara, atau BUMN cluster industri pertahanan strategis dan teknologi tinggi, atau dikenal dengan National Defense and Hightech Industries menggelar Rapat Koordinasi di Nusa Dua, Bali, dalam rangka konsolidasi.

Rakor enam BUMN yang terdiri dari PT DAHANA, PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT Industri Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Len Industri, dan PT Industri Nuklir Indonesia itu dihadiri Menteri Pertahanan Ryamizard Ryakudu, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan sejumlah pejabat lainnya.

  • Menteri Rini mengatakan, pertemuan ini untuk menekankan pentingnya industri strategis membuat komponen atau produk di bidang pertahanan. “Itu yang harus kita utamakan. Selama ini, memang konsentrasi mereka (enam BUMN) hanya di bidang produk pertahanan saja,” kata dia di Nusa Dua, Jumat 9 Februari 2018.

    Padahal, ia melanjutkan, perkembangan di dunia saat ini teknologi pertahanan tak hanya menghasilkan produk pertahanan dalam artian sempit, namun juga bisa secara komersial.

    “Kalau kita melihat dunia, dasar produk pertahanan itu bisa dimanfaatkan dan teknologinya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal komersial,” ucapnya.

    Rini menekankan, agar BUMN yang bergerak di sektor pertahanan tak hanya berkonsentrasi pada kebutuhan itu saja, melainkan memanfaatkannya juga untuk penciptaan produk lain.

    Rini meminta sinergi BUMN ini bisa menghasilkan produk yang tak hanya kebutuhan industri di sektor pertahanan saja, tetapi juga dapat memanfaatkan teknologinya untuk penciptaan lain, sehingga Indonesia menjadi bagian penting dari global change management.

    “Kita mau, sinergi BUMN ini menghasilkan produk yang memang menjadi kepentingan pertahanan kita, sehingga menjadi mandiri, tetapi juga pada saat sama kita bisa memanfaatkan produk ini untuk hal lain,” ujarnya.

    Ia berharap, industri pertahanan dalam negeri bisa menghasilkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan bagi negara-negara lain. “Dalam arti, kita juga bisa mengekspor produk-produk kita, apakah itu dalam bentuk produk pertahanan maupun lainnya,” katanya.

    Rini bersyukur, industri pertahanan Indonesia mampu mengais untung di 2017 lalu. “Alhamdulillah, saya juga sangat senang dan berterima kasih kepada teman-teman di industri pertahanan yang pada tahun 2017 untung,” jelas dia.

    Pada tahun-tahun sebelumnya, Rini melanjutkan, banyak dari perusahaan-perusahaan di sektor pertahanan itu belum bisa menghasilkan untung. Sayang, dia tak merinci besaran untung yang didapat perusahaan tersebut, termasuk produk apa yang menghasilkan keuntungan.

    Rini ingin, dalam sinergi ini masing-masing BUMN membagi peran. Sebut saja, misalnya PT PAL. Dengan garis pantai terpanjang di dunia yang dimiliki Indonesia, ia berharap, bisa menjadi yang terdepan di kawasan ASEAN.

    “Lalu, PT Dirgantara Indonesia, kebutuhan akan pesawat itu bisa membuat kita mencapai ekonomi dalam pembuatan, sehingga kita menjadi kuat di ASEAN, atau Asia Timur. Ini yang kita dorong. Harapannya tidak lepas, kita perlu dukung Panglima TNI, karena sebagai pengguna produk kita,” ujar dia.