Tak Ungkit Peristiwa Bantu Pemulihan Trauma Korban Bom

Tak Ungkit Peristiwa Bantu Pemulihan Trauma Korban Bom

         KlikQQ – Peristiwa ledakan bom di Surabaya meninggalkan duka mendalam, bahkan dapat memicu trauma korban. Pemulihan bisa diupayakan dengan tak mengungkit kronologi peristiwa teror.

Psikolog Melly Puspita Sari mengungkapkan orang perlu melihat ada dua konsep trauma yakni, trauma primer dan trauma sekunder.

Ia menjelaskan trauma primer berarti trauma yang dialami korban yang berada pada lokasi kejadian secara langsung. Sedangkan trauma sekunder adalah efek atau rasa negatif akibat informasi yang beredar.

Melly menuturkan pemulihan trauma korban bom tidak mudah, perlu kesabaran ekstra bagi para terapis maupun psikolog. Namun, orang di sekitar korban dapat memberikan dukungan demi pemulihan kondisi korban.

“Jangan ditanya terus peristiwanya. Misal gini, ‘kamu trauma ya karena ledakan bom’ atau ‘kasihan ya bapak kamu meninggal karena bom’,” kata Melly saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Minggu (13/5).

Menurut dia, hal itu memberikan penguatan terhadap peristiwa dan akan masuk semakin dalam lagi.

Dia menuturkan penanganan trauma korban bom akan berbeda dengan trauma korban pemerkosaan, gempa bumi atau peristiwa lain. Namun mereka mengalami hal yang serupa yakni ada gangguan psikologis, mental, gangguan berpikir serta gangguan afeksi.

Peristiwa itu, lanjutnya, memberikan persepsi baru terhadap hal-hal yang umumnya normal kepada situasi yang sangat khusus.

“Pemulihan ini yang jelas bertujuan memberikan persepsi baru kembali bahwa secara kognitif peristiwa bom itu memang sesuatu yang tidak disadari, tidak bisa dipastikan sehingga kewaspadaan harus dimunculkan,” kata Melly.

Lebih lanjut lagi ia menjelaskan kewaspadaan yang dimaksud misalnya lebih berhati-hati jika berada di area-area yang mendekati potensi peristiwa, kecenderungan tempat yang ramai juga memberikan peluang peristiwa serupa.

Menurut dia, Indonesia seharusnya tempat yang damai sehingga peristiwa ledakan bom menjadi sesuatu yang mengerikan.

Sedangkan trauma sekunder bisa timbul akibat informasi yang beredar sehingga timbul rasa negatif dalam diri seseorang. Peristiwa ledakan bom mau tidak mau memicu tersebarnya beragam informasi baik tentang peristiwa maupun dugaan pelaku.

Melly mengkhawatirkan beredarnya informasi mengenai pelaku justru memberikan ‘angin segar’ bagi kelompok teroris.

“Beredar informasi, misal pelaku terorisme itu Muslim, jenggotan, itu salah. Memang yang klimis enggak boleh? Padahal semua bisa melakukan teror. Ini yang digunakan teroris supaya golongan mereka aman,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar menyaring informasi yang masuk dan selektif dalam menyebarkan informasi. Penyebaran informasi yang tidak benar juga dapat menimbulkan trauma walau orang yang mendapa informasi tidak berada di lokasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *