Kala Mal Jadi Kotak Hampa Raksasa Pasca Luluh Lantaknya Bisnis Ritel

Kala Mal Jadi “Kotak Hampa Raksasa” Pasca Luluh Lantaknya Bisnis Ritel

Awan kelabu ritel menggerayangi negeri adikuasa Amerika Serikat sepanjang tahun ini. Peritel pun remuk redam dalam pusaran kekelaman tak tahu ujungnya.

Banyak analis berusaha menerka apa sebetulnya yang terjadi dengan ritel Amerika Serikat tahun ini. Satu per satu toko gulung tikar. Sebut misalnya, peritel legendaris Sears yang mesti merelakan 63 gerainya tutup. Ada pula Bon-Ton yang melepas portofolio 40 gerainya.

Ruang ritel yang ditinggalkan pebisnis itu membuat pusat perbelanjaan berubah wajah. Mal seolah bukan lagi tempat menjajakan produk secara ideal, tetapi berubah menjadi “kotak kosong raksasa”.

Deretan toko tak bertuan menjadi pemandangan lazim di pusat perbelanjaan negeri Paman Sam kini. Semarak kehidupan perlahan meredup dari sana. Menyisakan hawa temaram sedemikian kental.

Untuk membuktikannya, marilah kita tengok mal di kawasan pinggiran Detroit Westland. Tatkala peritel seperti Value City, Circuit City, dan Macy’s di Westland Shopping Center gugur, deretan toko besar dan kosong langsung menyeruak.

Memang, beberapa toko yang tutup itu akhirnya diisi kembali dengan peritel baru. Sejumlah ruang lainnya ditransformasikan menjadi tempat non ritel, seperti ruang publik. Namun, ada pula yang masih kosong dan belum tersentuh kembali.

Mal kosong di Westland, Amerika Serikat
Mal kosong di Westland, Amerika Serikat(JC Reindl)

Sementara Westland dilanda sejumlah penutupan toko ritel besar, para pengamat mengatakan pinggiran kota di seantaro Amerika Serikat telah sedemikian jenuh. Tren masyarakat mulai berubah, jika sebelumnya berbelanja di peritel konvensional menjadi daring.

Ada adagium baru bahwa ruang kosong terlalu banyak dibandingkan jumlah peritel yang ingin mengisinya. Seperti yang dialami pula oleh kota Michigan saat ini.

“Bukan hanya di Michigan, ini (kosongnya ritel) terjadi di seluruh negeri,” ungkap Ron Goldstone, Wakil Presiden Direktur di perusahaan konsultan properti NAI Farbman, seperti dikutip USA Today, Selasa (28/11/2017).

Peritel raksasa seperti Kmart, Sears, dan J.C Penney juga terus melakukan aksi tutup toko dan diprediksi belum akan berakhir dalam beberapa waktu ke depan.

“Akan terus ditutup, tanpa keraguan, karena peritel kita terlalu banyak,” cetus Frank Monaghan, Presiden Monaghan & Company, broker ritel komersial.

“Ada banyak pula area di daerah Detroit di mana saya melihat tidak ada lagi peritel yang mau menempatinya,” sambung dia.

Butuh revolusi

Guncangan ritel negeri adidaya menimbulkan pemikiran baru bahwa inovasi amat krusial.

Terlebih lagi, sebagai contoh, dalam waktu dekat ini Eastland Center Mall bakal kehilangan gerai toserba Target. Peritel itu menyusul Macy’s dan Sears yang lebih dahulu hengkang.

Barisan toko kosong memaksa pemilik mal untuk lebih kreatif saat mencoba untuk mengisinya kembali.

Sejumlah cara mesti dilakukan, antara lain membagi properti ke sejumlah toko lebih kecil dan mengejar penyewa non-tradisional seperti pusat trampolin, fasilitas medis, dan sebagainya.

Ilustrasi ritel tutup
Ilustrasi ritel tutup (claudiodivizia)

“Anda harus kreatif atau Anda akan memiliki banyak kotak kosong besar yang ‘membusuk’ di depan mata,” kata Goldstone lagi.

Konsultan properti NAI Farbman, yang secara teratur menjadi perantara peritel besar, memperkirakan bahwa sepertiga toko kosong di Michigan dapat digunakan dengan format ritel saat ini.

Syaratnya, dengan melakukan renovasi untuk mengubah wajah toko agar lebih kekinian.

Hal itu sebagaimana telah dilakukan pada toko tua Kmarts yang telah direnovasi dan diubah jadi toko baru yang lebih segar.

Untuk dua pertiga sisanya, dapat dirombak menjadi ruang non-ritel, seperti pusat kebugaran atau pergudangan.

Pada akhirnya, akankah mal kosong jadi tren “zaman now” di Amerika Serikat? Layak dinanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *